Perlu Sinergi untuk Bangun Perpustakaan Khusus

19 September 2013 Administrator



 

http://dpr.go.id/images/ckuploaded/files/DSC_5584.JPG" alt="" width="209" height="160" />

Perpustakaan khusus yang berfungsi sebagai pusat referal dan penelitian serta sarana untuk mempelancar pelaksanaan tugas lembaga atau instansi mempunyai tantangan tersendiri dalam pengembangannya. Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal DPR  Winantuningtyas Titi saat menjadi pembicara kunci dalam forum diskusi dan koordinasi yang diikuti 100 pustakawan dari Kementerian dan Lembaga Negara.

"Forum ini diharapkan dapat membangun sinergi, networking, sharing pengalaman dan pengetahuan untuk membangun perpustakaan khusus di institusi dan lembaga masing-masing," katanya di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (17/9/13).

Ia berbagi pengalaman saat menata Perpustakaan DPR, anggota dewan sebagai pemustaka utama sering menyampaikan kritikan terhadap pelayanan yang diberikan. Kondisi ini menjadi cambuk bagi para pustakawan untuk memberikan pelayanan lebih baik.

"Anggota DPR adalah pejabat negara yang sangat sibuk. Itulah sebabnya penting menyediakan koleksi yang benar-benar mereka perlukan. Jeli membaca kebutuhan mereka," lanjutnya.

Kepala Pusat Pengkajian dan Pengolahan Data Informasi Setjen DPR, Damayanti dalam kesempatan itu melaporkan Perpustakaan DPR mengembangkan layanan baru diantaranya kliping dan katalog online. Perpustakaan parlemen yang dirintis sejak era penjajahan Belanda ini, telah memiliki 105.784 koleksi serta 406 koleksi ebook yang dapat diakses dengan komputer dan telepon genggam.

http://dpr.go.id/images/ckuploaded/files/DSC_5600.JPG" alt="" width="212" height="148" />

Sementara itu pembicara  Dharma Gustiar Baskoro dosen dan librarian dari Universitas Pelita Harapan mengingatkan pengelola perpustakaan khusus harus fokus mengembangkan informasi yang dibutuhkan untuk para pengambilan keputusan. "Mereka cendrung tidak punya banyak waktu untuk riset, informasi yang dibutuhkan biasanya dalam paket data, lebih menyukai informasi online. Perlu dipahami kebutuhan pengguna, kalau tidak kita akan ditinggalkan," tekannya.

Ia juga menyayangkan perkembangan dunia kepustakaan di tanah air sudah jauh tertinggal dari negara tetangga yang sebenarnya dahulu belajar di Indonesia. "Sampai saat ini kita baru punya satu profesor di bidang ilmu kepustakaan. Malaysia yang dulu belajar disini sekarang sudah punya lebih banyak profesor," demikian Dharma. (iky)/foto:rizka/parle/iw.

http://dpr.go.id/id/berita/lain-lain/2013/sep/17/6708/perlu-sinergi-untuk-bangun-perpustakaan-khusus" target="_blank">Sumber Berita